Header Ads

Keangkuhan Adik Ahok Ini Bikin Geram, Ngotot Masukkan "Islam Sontoloyo" dalam Pledoi




FIFI Lety Indra, adik biologis Ahok, yang masuk dalam tim penasihat hukum Basuki Tjahaya Purnama (BTP), malah memberi efek negatif kepada nama baik sang kakak dan upaya pembelaan hukum terhadapnya.

Bayangkan, pengacara muda tak berpengalaman bersandingan dengan nama-nama besar pengacara senior seperti Trimoelja D. Soerjadi, Humphrey R. Djemat, Sirra Prayuna, Teguh Samudera, I Wayan Sudirta, dan nama lainnya, tetapi lagaknya melebihi advokat sekelas almarhum Adnan Buyung Nasution.

Suara sumbang mengenai Fifi menyeruak. Tim penasihat hukum yang terlihat begitu solid itu, sebenarnya menyimpan bara di dalamnya. Konon, beberapa orang penasihat hukum menyatakan ingin keluar dari tim pensihat hukum BTP karena tersinggung dengan sikap Fifi.

Ada apa dengan Fifi? Tingkah apa yang dibuat Fifi, sehingga membuat tim penasihat hukum Ahok menjadi terpecah? Lantas mengapa bisa ada kemungkinan Fifi sendiri yang akan menghancurkan Ahok?

Menurut sumber, Fifi kerap kali blunder, baik terkait pernyataan di media massa maupun sikapnya yang cenderung angkuh. Fifi kerap kali tidak bisa membedakan posisinya sebagai tim penasihat hukum atau sebagai adik Ahok. Fifi juga tidak paham dengan konstelasi dan perkembangan yang terjadi di luar. Fifi pun tidak menghormati pengacara-pengacara yang lebih senior. Dalam beberapa sidang, Fifi sering ditegur hakim karena pertanyan-pertanyaannya yang tidak substantif.

Dan terakhir, mungkin yang paling parah, Fifi adalah orang di balik Pledoi "Ikan Nemo".

Masih ingatkah ketika Fifi membuat pernyataan heboh "Al-Quran diturunkan oleh Nabi Muhammad SAW"? Sebuah pernyataan yang sesungguhnya masuk delik penodaan agama lebih berat dari delik kakaknya. Namun sayang, ACTA mencabut gugatannya karena lebih fokus ke Ahok.

Sikap otoriter Fifi membuat harmonisasi tim BTP menjadi retak. Bahkan, dalam setiap sidang, Fifi membatasi tim pengacara yang bertanya dan tidak segan menghentikan pertanyaan itu kalau tidak sreg dengan pemikirannya. Padahal, menurut keterangan, beberapa pihak pengacara yang tergabung dalam penasihat hukum BTP free of charge alias tidak dibayar. Para pensihat hukum dengan sukarela membela Ahok. Namun pribahasa air susu di balas air tuba.

Anehnya, sang Kakak (Ahok) sangat menuruti langkah-langkah yang diambil oleh adiknya itu. Ada apa? Lantas apa hubungannya dengan pledoi "Ikan Nemo" yang dibacakan Ahok?

Yang bikin geger dan tidak diketahui publik, yaitu perkara sensitif yang satu ini. Fifi bersikeras memasukkan referensi Islam Sontoloyo yang pernah disampaikan Bung Karno di tahun 1940-an. Dan, ajaibnya, itu di-aminkan saja oleh sang kakak.

Pemikiran Islam Sontoloyo yang dikemukakan oleh Bung Karno itu tentu berbeda konteks dengan persoalan Ahok sekarang ini. Bung Karno saat itu adalah penguasa dan menyampaikan gagasan keagamaan berdasarkan referensi pribadi sebagai pribadi muslim dan pergaulannya di pergerakan aktivis saat itu. Perlu diingat, Soekarno adalah salah satu murid HOS Tjokroaminoto yang adalah pendiri Partai Sarikat Islam (PSI). Soekarno berguru kepada Tjokro bersama Kartosuwiryo yang kemudian hari menjadi pencetus negara Islam DI/TII.

Islam Sontoloyo menurut paham Bung Karno waktu itu yaitu Royal Mencap Kafir, Taklid Buta, Mengutamakan Fikih, Tak Melek Sejarah, dan terakhir Hadis Lemah sebagai Pedoman.

Sementara Fifi, asal jiplak referensi Islam Sontoloyo itu dalam pledoinya itu.

Tim penasihat hukum BTP pun memanas. Yang mereka inginkan, pledoi-pledoi yang sudah dibuat saling memperkuat bukan malah sebaliknya. Pada akhirnya pledoi Fifi pun tetap dipakai, namun "Islam Sontoloyo" sudah dihilangkan. Tim penasihat hukum BTP bekerja keras menghindari masalah dan eskalasi yang lebih besar.

Bagaimana jadinya kalau Islam Sontoloyo masuk dalam pledoi yang dibacakan Ahok? Apa enggak chaos negeri ini? Sangat membahayakan kebhinnekaan bangsa dan juga pemerintahan Jokowi itu sendiri. Bahasa keras sudah dinyatakan oleh Amin Rais, "Jika Ahok Bebas, Jokowi Finish".

Orang tipikal Fifi akan membusungkan dada mengklaim keberhasilan tim sebagai keberhasilan dirinya. Sebaliknya, akan melemparkan masalah kepada tim jika tujuannya tidak tercapai.

Sudah seyoganya orang seperti ini tidak pantas menjadi penasihat hukum BTP, walaupun secara fakta dia adalah adiknya. Peran Fifi justru akan menghancurkan Ahok, bukan menyelamatkan Ahok.

Wallahualam bis Shawab

(sumber)


Tidak ada komentar