Header Ads

Tokoh-tokoh Ini Bilang : Ahok Lebih Baik Pimpin PPP Saja, Kita Bisa jadi Aborigin kalau Ahok yang Pimpin




Apa yang terjadi kalau tiga ekonom berbeda mazhab bertemu dan diminta MPR bicara soal kondisi perekonomian nasional saat ini?

Yang terjadi  hujan pertanyaan, mulai dari pakar tata negara Margarito Kamis sampai paranormal Permadi. Peserta lain juga tidak kalah antusias seperti Yudi Latif, Didiek J Rachbini, Irman Putrasidin, Theo Sambuaga, dan para anggota MPR lainnya dari berbagai fraksi.

Tiga ekonom dimaksud yaitu Rizal Ramli, Emil Salim, dan Ginandjar Kartasasmita.
Rizal yang anti neolib, Emil yang salah satu arsitek ekonomi Orba dan dikenal dengan predikat mafia Barkeley serta Ginandjar yang Soehartonomics antara lain digempur pertanyaan yang tidak ada hubungan dengan ekonomi.

"Menteri-menteri sekarang bermental kerupuk. Padahal kita perlu lima menteri seperti Pak Rizal, supaya selesai semua soal," kata Margarito yang kemudian menyatakan keprihatinan kondisi perekonomian saat ini tergangggu antara lain akibat persoalan Ahok.

"Makanya Ahok lebih baik mimpin PPP saja," sambung Margarito dalam acara yang digelar kemarin (Selasa, 25/4) di Gedung MPR, Senayan, Jakarta.

Permadi  yang ingin UUD 45 kembali ke aslinya mengatakan, bangsa dan elit Indonesia saat ini lebih takut kepada orang ketimbang takut kepada UUD.

"Jangan seperti itu. Kita bisa jadi aborigin kalau Ahok jadi presiden. Selama ini kita juga ditipu oleh para ekonom kapitalis," kata Permadi berapi-api.

Anggota MPR Djamal Aziz menyebut demokrasi Indonesia saat ini 'demokrasi konvoi' alias milik para bandar. Buktinya, kata Djamal, ekonom seperti Rizal Ramli disingkirkan dari kabinet karena keinginan para bandar di balik kekuasaan.

Emil Salim sebagai pembicara pertama dalam pembukaan acara menekankan pentingnya memperhatikan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia saat ini dan pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila ke dalam setiap sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedangkan Ginandjar membawakan makalah berjudul Kemandirian Dalam Format Ekonomi Baru.

Adapun Rizal Ramli, seperti halnya dalam berbagai kesempatan, kembali menegaskan, negara dan bangsa ini tidak akan  maju kalau terus menerus dikelola dengan sistem ekonomi neoliberal yang merupakan pintu masuk bagi kolonialisme-inperialisme. Tidak ada negara menjadi besar kalau cuma mengekor pada Bank Dunia dan IMF.

"Sekarang ini kebanyakan ekonom generik, ekonom ‘naik turun’ yaitu ikut Bank Dunia dan IMF. Kalau menghadapi krisis obatnya generik, naikkan harga, potong anggaran, seperti itu terus," ujarnya. [rmol


Tidak ada komentar