Langsung ke konten utama

Diancam Polisi, Warga yang Ketakutan Minta Tolong PP Muhammadiyah Pusat



Sikap arogan yang ditampilkan Ipda HM, Kanit Binmas Polsek Rumbai Pesisir, Pekanbaru, Riau terhadap seorang warga membuat dia terseret ke sidang kode etik di Polresta Pekanbaru.

Akibatnya dari putusan sidang itu yang berlangsung pada Kamis (4/5), kini Ipda HM harus menerima kenaikan pangkat harus tertunda selama satu periode dan tidak bisa mengikuti pendidikan.

Kasubag Humas Polresta Pekanbaru, Ipda Dodi Vivino membenarkan ada sidang kode etik terhadap oknum polri tersebut. "Benar kemarin memang ada sidang pemberian sanksi terhadap oknum anggota Polsek Rumbai Pesisir, sanksi diberikan berupa penundaan kenaikan pangkat selama satu periode dan pendidikan," ungkapnya.

Dia menyebutkan ada sebanyak tiga orang yang disidang kode etik. "Ada tiga orang, salah satunya yang tadi," singkat dia seperti dilansir Riau Pos (Jawa Pos Group), Sabtu (6/5).

Diketahui, sidang kode etik yang dialami Ipda HM ini bermula dari tindakannya yang mengancam salah seorang warga Rumbai yang terlibat dalam pengrusakan kantor Camat Rumbai Pesisir beberapa waktu lalu.

Kala itu, 2 Mei 2016, sekitar 40 orang anggota polisi datang ke kediaman Edward Bandaro Sari Bin Azwar A. Namun di rumah tersebut hanya ada ibunya. Polisi yang tiba lantas masuk dengan menyerobot dan memporak-porandakan rumahnya. Melihat situasi itu, sang ibunda Eli Erni langsung jatuh pingsan melihat aksi tersebut.

Hal tersebut diketahui Edward sampai di rumah setelahnya mendapati cerita dari sang ibunda. Diketahui kedatangan polisi tersebut dalam rangka mencari salah seorang terduga pelaku penyerangan kantor Camat Rumbai Pesisir tempo lalu.

Lantas Edward Bandaro Sari Bin Azwar A mendatangi Polsek Rumbai Pesisir untuk menanyakan secara langsung apa maksud pihak kepolisian yang datang ke rumah dan sempat melakukan pengancaman. Di kantor Polsek Rumbai Pesisir Jalan Sekolah itu dia bertemu dengan salah seorang anggota oknum polsek Rumbai Pesisir Ipda Hendra Martin yang bertugas sebagai Kanit Binmas Polsek Rumbai Pesisir.

Pada saat pertemuan itu, Ipda Hendra Martin membenarkan akan membinasakan sang adik Edwawrd. "Saya sangat khawatir," ungkap Edward.

Menurutnya sekalipun adiknya menjadi terduga teroris tidak mungkin Polisi langsung melenyapkan orang. Polisi bertugas menangkap pelaku. Lalu diserahkan kepada jaksa untuk dijatuhkan hukuman. "Kalau prosedurnya seperti itu kita sebagai warga yang taat aturan pasti setuju," tambahnya.

Lantaran tidak tahu harus mengadu kemana, dia mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai aksi brutal anggota Polsek Rumbai Pesisir yang datang ke rumahnya Jalan Sekolah, Kecamatan Rumbai Pesisir sekitar tanggal 2 Mei lalu.

Surat yang dikirim Edward kepada Presiden Republik Indonesia (RI) Joko widodo dikirim pada Jumat (6/5) lalu. Keesokan harinya dia juga mengirimkan surat ke PP Muhammadiyah Pusat untuk meminta bantuan perlindungan hukum. Karena ia bersama keluarga sangat ketakutan saat ini. (*3/iil/JPG)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menteri Malaysia : Wirathu Jangan Coba-coba ke Aceh, Atau Rudal Kami yang Akan Menyambut Duluan!

Menteri Pertahanan Malaysia Hishamuddin Hussein, menanggapi seruan Wirathu yang mengancam akan menyerang Aceh, Rabu (15/3/2017).

Berbicara kepada wartawan di lobi parlemen, Hishamuddin mengatakan bahwa Malaysia memiliki hubungan istimewa dengan Indonesia, khususnya Nangroe Aceh Darussalam.

Hishamuddin mengatakan, Malaysia akan dengan senang hati mengirimkan rudal-rudal mereka jika mendeteksi ada kapal atau pesawat Myanmar yang berisi biksu yang ingin menyerang Aceh.

”Hubungan Malaysia dan Indonesia seperti saudara kandung. Terlebih dengan Aceh. Kami tidak akan membiarkan seorang biksu pun yang dengan leluasa melewati laut Malaysia, tanpa berhadapan dengan rudal-rudal kami,” katanya.

Malaysia yakin Biksu Wirathu akan berpikir hingga sejuta kali jika ingin membuat rusuh di Aceh.

”Sangat tidak masuk akal jika Biksu Wirathu berani ke Aceh. Saya yakin ia akan membuat lubang kuburnya sendiri jika berani ke sana,” imbuh dia, seperti dikutip The Star.

Menhan Malaysia yang masih kerabat dekat…

Tidak Dipedulikan Pemerintah, Turki dan Brunei Berebut Bocah Aceh Ini

Naufal Rizki, pelajar kelas 2 MTSN Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh penemu energi listrik dari pohon kedondong mulai diincar negara luar. Tak tanggung-tanggung, Turki dan Brunei melalui menteri energinya mengaku tertarik memboyong Naufal ke nagara mereka. Hal ini mengemuka setelah tidak adanya tindak lanjut dari pemerintah Indonesia meneruskan penelitian energi yang terbarukan tersebut.

"Energi yang terbarukan adalah masa depan dunia. Para penemunya adalah permata yang layak diperebutkan," ujar Menteri Energi Turki Yildiz, Senin (8/5) seperti dikutip dari AFP seraya menyayangkan pemerintah Indonesia yang tidak jeli melihat potensi rakyatnya sendiri.

Senada dengan Yildiz, Menteri Energi Brunei Darussalam Mohammad Yasmin bin Haji Umar juga mengutarakan hal yang sama.

"Efisiensi energi mutlak diberlakukan. Masa depan dunia berada di genggaman para penemu energi yang terbarukan. Kami berani membayar mahal demi hal tersebut," kataYasmin bin Haji Umar.

Biaya Penelitian Na…

Biksu Wirathu : Tak Ada yang Dapat Membendung Kami ke Aceh!

Terkait hukuman cambuk yang dikenakan kepada 2 orang pemeluk Buddha di Aceh, Wirathu selaku biksu Myanmar yang anti-Islam kembali meneriakkan ancamannya.

Biksu yang mendalangi pembantaian ratusan ribu muslim di Rohingya ini berjanji akan membalas perlakuan muslim di Aceh terhadap umat Buddha. Dikutip dari Aljazeera, Wirathu membanggakan pembunuhan massal yang telah dilakukan para pengikutnya.

"Kami telah membantai ratusan ribu muslim di Myanmar, tak ada yang dapat membendung kami ke Aceh," ujar biksu yang hanya dihukum satu tahun ini.

"Para biksu sudah dibekali kemampuan militer. Kami tidak hanya akan mengusir umat muslim di Myanmar, tapi juga di Asia Tenggara ini. Agar kedamaian tercipta abadi," ketusnya.



Biksu bernama lengkap Ashin Wirathu itu menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar. Dia menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu.

Sepuluh tahun lalu, publik belum pernah mende…