Langsung ke konten utama

Alfian Tanjung Tetap Teguh Sebut 85 Persen Anggota PDIP adalah Kader PKI



Ustaz Alfian Tanjung menjalani pemeriksaan selama 9,5 jam di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Rabu, 31 Mei 2017. Alfian diperiksa sebagai tersangka dalam kasus ujaran kebencian. Sangkaan itu didasarkan pada ucapannya bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan berisi banyak kader Partai Komunis Indonesia.

Alfian Tanjung selesai diperiksa sekitar pukul 21.30 WIB dan langsung kembali ke tahanan. Ditemui usai pemeriksaan, ia bersikeras tuduhannya masih berdasar. "Gerakan komunisme ini memang muncul ya," kata dia. Alfian Tanjung menyatakan siap menghadapi proses hukum dan membuktikan pernyataannya. "Kami akan hadapi semua di pengadilan."

Alfian Tanjung menjadi tersangka dalam kasus ujaran kebencian, terkait cuitan di twitter pribadinya. Isinya, Alfian Tanjung menuding 85 persen anggota PDIP adalah kader PKI. Tuduhan ini kemudian dilaporan oleh PDIP ke Polda Metro Jaya. Beberapa hari lalu, Alfian resmi ditetapkan sebagai tersangka setelah sebelumnya diperiksa sebagai saksi sebanyak satu kali.

Selain di Polda Metro Jaya, Alfian Tanjung juga ditetapkan menjadi tersangka di Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Ia dituduh menyebarkan kebencian lewat salah satu ceramahnya di Surabaya. Isinya, Alfian menuding Istana Presiden telah banyak diisi oleh orang PKI.

Menurut Abdullah Al Katiri, kuasa hukum Alfian, kliennya diperiksa sejak pukul 13.00 WIB. Penyidik yang memeriksa lebih banyak menanyakan tentang kegiatan Alfian, dan ceramah-ceramah yang selama ini disampaikan oleh Alfian.

Al Katiri juga menyangkal pasal ujaran kebencian yang dituduhkan pada Alfian. "Kan itu memberikan suatu pemahanan. Seorang ustaz membicarakan bahaya laten untuk kepentingan umum," kata dia.

Alfian sendiri sudah menyatakan permintaan maaf mengenai kasus ini.  (TEMPO)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menteri Malaysia : Wirathu Jangan Coba-coba ke Aceh, Atau Rudal Kami yang Akan Menyambut Duluan!

Menteri Pertahanan Malaysia Hishamuddin Hussein, menanggapi seruan Wirathu yang mengancam akan menyerang Aceh, Rabu (15/3/2017).

Berbicara kepada wartawan di lobi parlemen, Hishamuddin mengatakan bahwa Malaysia memiliki hubungan istimewa dengan Indonesia, khususnya Nangroe Aceh Darussalam.

Hishamuddin mengatakan, Malaysia akan dengan senang hati mengirimkan rudal-rudal mereka jika mendeteksi ada kapal atau pesawat Myanmar yang berisi biksu yang ingin menyerang Aceh.

”Hubungan Malaysia dan Indonesia seperti saudara kandung. Terlebih dengan Aceh. Kami tidak akan membiarkan seorang biksu pun yang dengan leluasa melewati laut Malaysia, tanpa berhadapan dengan rudal-rudal kami,” katanya.

Malaysia yakin Biksu Wirathu akan berpikir hingga sejuta kali jika ingin membuat rusuh di Aceh.

”Sangat tidak masuk akal jika Biksu Wirathu berani ke Aceh. Saya yakin ia akan membuat lubang kuburnya sendiri jika berani ke sana,” imbuh dia, seperti dikutip The Star.

Menhan Malaysia yang masih kerabat dekat…

Tidak Dipedulikan Pemerintah, Turki dan Brunei Berebut Bocah Aceh Ini

Naufal Rizki, pelajar kelas 2 MTSN Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh penemu energi listrik dari pohon kedondong mulai diincar negara luar. Tak tanggung-tanggung, Turki dan Brunei melalui menteri energinya mengaku tertarik memboyong Naufal ke nagara mereka. Hal ini mengemuka setelah tidak adanya tindak lanjut dari pemerintah Indonesia meneruskan penelitian energi yang terbarukan tersebut.

"Energi yang terbarukan adalah masa depan dunia. Para penemunya adalah permata yang layak diperebutkan," ujar Menteri Energi Turki Yildiz, Senin (8/5) seperti dikutip dari AFP seraya menyayangkan pemerintah Indonesia yang tidak jeli melihat potensi rakyatnya sendiri.

Senada dengan Yildiz, Menteri Energi Brunei Darussalam Mohammad Yasmin bin Haji Umar juga mengutarakan hal yang sama.

"Efisiensi energi mutlak diberlakukan. Masa depan dunia berada di genggaman para penemu energi yang terbarukan. Kami berani membayar mahal demi hal tersebut," kataYasmin bin Haji Umar.

Biaya Penelitian Na…

Biksu Wirathu : Tak Ada yang Dapat Membendung Kami ke Aceh!

Terkait hukuman cambuk yang dikenakan kepada 2 orang pemeluk Buddha di Aceh, Wirathu selaku biksu Myanmar yang anti-Islam kembali meneriakkan ancamannya.

Biksu yang mendalangi pembantaian ratusan ribu muslim di Rohingya ini berjanji akan membalas perlakuan muslim di Aceh terhadap umat Buddha. Dikutip dari Aljazeera, Wirathu membanggakan pembunuhan massal yang telah dilakukan para pengikutnya.

"Kami telah membantai ratusan ribu muslim di Myanmar, tak ada yang dapat membendung kami ke Aceh," ujar biksu yang hanya dihukum satu tahun ini.

"Para biksu sudah dibekali kemampuan militer. Kami tidak hanya akan mengusir umat muslim di Myanmar, tapi juga di Asia Tenggara ini. Agar kedamaian tercipta abadi," ketusnya.



Biksu bernama lengkap Ashin Wirathu itu menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar. Dia menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu.

Sepuluh tahun lalu, publik belum pernah mende…