Header Ads

GAWAT! Dua Lubang Hitam Raksasa Bergabung, Bumi Ikut Terseret




Ilmuwan kembali mendeteksi gelombang gravitasi yang pernah diungkap Albert Einstein pada 100 tahun lalu. Gelombang gravitasi tersebut berasal dari fenomena bergabungnya dua lubang hitam raksasa yang berjarak tiga miliar tahun cahaya dari bumi. Sekadar informasi, satu tahun cahaya sekitar 10 triliun kilometer jarak di bumi.

Lubang hitam adalah perubahan wujud dari bintang raksasa yang sekarat. Ketika kolaps, bintang memicu supernova atau ledakan bintang yang membuat sebagian materialnya terpental ke jagat raya.

Para ahli meyakini lubang hitam terbentuk bersamaan dengan galaksi yang menjadi rumah mereka. Berbeda dengan bintang yang melepaskan cahaya, lubang hitam tak bisa dilihat karena tak ada cahaya yang bisa lolos dari tarikan gravitasinya.

Dalam Teori Relativitas Umum, Einstein menyebut jagat raya tidak statis dan kaku seperti yang diyakini banyak orang selama 200 tahun sejak era Isaac Newton. Menurut ilmuwan yang populer dengan rambut jabrik kelabunya itu, jagat raya justru merupakan ruang-waktu relatif yang dinamis.

Pergerakan materi dan energi dapat mengguncang struktur jagat raya dan memicu timbulnya riak-riak gravitasi yang membuat ruangwaktu, bahkan cahaya yang tadinya dianggap bergerak lurus, bisa melengkung.

Sinyal gelombang gravitasi tersebut diambil dari stasiun LIGO (Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory) yang ada di Lousiana, Amerika Serikat. Lembaga ini berdiri atas gabungan California Institute of Technology dan Massachusetts Institute of Technology.

Pendeteksian ketiga kalinya ini menegaskan bahwa, metode baru penyeledikan antariksa sedang berlangsung. "Juga, menjelaskan bahwa pengamatan astronomi akan beralih ke hal-hal baru: gelombang gravitasi," kata David Shoemaker, juru bicara LIGO Scientific Collaboration, seperti dilansir laman berita BBC, Jumat, 2 Mei 2017.

Pendeteksian ini terjadi pada 4 Januari lalu pukul 10.11 waktu setempat. Laporan selengkapnya bisa dibaca dalam jurnal Physical Review Letters edisi 1 Juni 2017. Artikel tersebut berjudul "Observation of a 50-Solar-Mass Binary Black Hole Coalescence at Redshift 0.2".

Dalam jurnal, tim ilmuwan memastikan bahwa bergabungnya dua lubang hitam raksasa ini menghasilkan skala energi yang sangat luar biasa. Tim mengungkap, dua lubang hitam tersebut memiliki massa masing-masing 31 kali dan 19 kali lebih besar dari matahari. Ketika keduanya bergabung lantas menghasilkan satu objek yang 49 kali lebih kecil dari matahari.

Artinya, ada cukup besar energi murni yang memancar. "Ini adalah peristiwa astronomi paling kuat yang pernah disaksikan manusia," kata Michael Landry, peneliti di LIGO yang juga anggota studi.

Dalam fenomena kali ini, tulis tim dalam jurnal, energi seukuran dua kali massa matahari dideformasi dalam bentuk ruang. Energi ini dilepaskan dalam waktu yang sangat singkat dan tidak satupun cahaya yang keluar dari proses ini. Karena itu, peneliti menyimpulkan ada peran gelombang gravitasi yang sangat besar dalam proses ini.

Seperti dua pengamatan sebelumnya, September dan Desember 2015, para ilmuwan tidak bisa mendeteksi secara detail lokasi deformasi lubang hitam kali ini. Dari tiga milidetik jarak antara sinyal pertama dan kedua, tim hanya bisa menentukan kemungkinan besaran dan sumbernya.

Memang, teleskop konvensional disiagakan untuk mencari kilatan cahaya yang akan muncul sebelumnya. Sayangnya, para peneliti tak menemukan cahaya apapun yang berasal dari gelombang gravitasi yang dihasilkan dari penggabungan dua lubang hitam ini. Peneliti LIGO baru bisa memecahkan masalah penentuan lokasi tersebut ketika stasion ketiga bernama VIRGO yang dibangun di Pisa, Italia, mulai bekerja musim panas ini.

Deteksi gelombang gravitasi digambarkan sebagai salah satu terobosan fisika terpenting dalam dekade terakhir. Terobosan ini bagai menggetarkan jaring kosmos. Sebelum ada LIGO, beberapa fenomena energi yang 25 kali lebih besar dari pada matahari sama sekali tidak diketahui.

"Dalam dua tahun ini, populasi kehidupan di luar sana semakin misterius," kata Sheila Rowan, anggota tim dari Universitas Glasgow, Inggris. Dia mengatakan, yang akan kami lakukan ke depannya adalah.

Kita tunggu saja pembuktian lain adanya gelombang gravitasi yang pernah dikemukakan Albert Einstein pada 100 tahun lalu.


Tidak ada komentar