Header Ads

Pemerintah Besar-besaran Import Bawang Putih dari Tiongkok




Pemerintah sepertinya tidak bisa bermanuver demi menanggulangi lonjakan harga sembako. Pemerintah hanya bisa melakukan cara-cara yang sama, yaitu import. Seperti 10 ton bawang putih dari Tiongkok, tiba di gudang Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Sumsel Babel, Palembang, pagi kemarin (31/5).

Tambahan 10 ton ini untuk menstabilkan harga, mengingat stok bawang putih di agen berkurang karena pasokan dari Tiongkok putus.

”Hari ini (kemarin, red) bawang tersebut segera kami jual lagi. Insya Allah dengan adanya tambahan stok ini, akan menstabilkan harga," harap Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel, Bakhtiar AS, seperti dilansir Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group), hari ini.

Dikatakan, bawang putih itu dipasarkan di hampir seluruh pasar tradisional. Seperti Pasar Cinde, Pasar Km 5, Pasar Perumnas, Pasar Lemabang, dan lainnya. Di bulog, harga jual bawang putih ini hanya Rp 37 ribu per kg. Sedangkan di pasaran, lebih tinggi.

"Karena barang cukup, tinggal pilih. Mau beli murah ke Bulog atau mau mahal ya di pedagang. Kami melayani untuk pembelian berapapun (eceran,red)," paparnya.

Jelang Ramadan, sambung Bakhtiar, sebenarnya Bulog sudah mendatangkan 5 ton bawang putih. Telah didistribusikan ke pedagang, agen, pengecer, juga masyarakat melalui operasi pasar (OP).

Selain bawang putih, pihaknya juga akan melakukan OP komoditi lainnya. Seperti gula, beras, minyak goring, dan lainnya. "Kami juga datangkan daging beku India sebanyak dua ton. Sejauh ini, keberadaan daging ini lumayan direspon masyarakat sebagai alternatif konsumsi daging," katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel, Agus Yudiantoro, mengatakan tambahan 10 ton bawang putih dari Bulog, diharapkan dapat menstabilkan harga bawang putih. ”Tapi kami tetap akan meminta kuota bawang putih kepada pemerintah pusat. Mengingat, hingga saat ini Sumsel belum mendapatkan kuota,” katanya.

Padahal, Sumsel merupakan salah satu pengkonsumsi bawang putih terbesar di Indonesia. Dimana bawang putih ini dipergunakan untuk bahan baku cuka pempek. "Ya, harusnya dapat kuota. Ini yang akan kami kejar di Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan," tegasnya.

Terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Yos Rudiansyah, membenarkan harga sembako saat ini menunjukkan peningkatan. Hasil pantauan pihaknya di beberapa pasar, sembako yang merangkak naik adalah daging ayam, telur ayam, bawang putih, cabai merah. "Di luar komoditi itu masih stabil," katanya.

Dijelaskan Yos, hal yang paling penting dalam menjaga harga adalah memperhatikan distribusi dan pasokan, terutama pada saat ramadan dimana permintaan akan tinggi.

"Kalau inflasi untuk Mei baru keluar Juni ini. Namun diprediksi inflasi akan tetap tinggi," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, dalam sidak Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel dan Ditreskrimsus Polda Sumsel ke Pasar 16 Ilir, Selasa (30/5), didapati pasokan bawang putih dari Tiongkok berkurang.

Harga agen sudah di antara Rp40-45 ribu per kg untuk bawang Tiongkok. Sementara di pengecer, Rp60-70 ribu per kg. Jauh dari harga eceran tertinggi (HET) Rp38 ribu per kg.

Menurut salah satu agen bawang putih di Pasar 16 Ilir, Sonny Rafles, pasokan dari Tiongkok putus karena di sana masih musim tanam. Sebab panen sudah berlangsung bulan lalu. Untuk pasokan, terpaksa mereka harus mengambil dari Jabodetabek.

Berebut dengan pedagang lain di Indonesia, sehingga harga jadi sedikit mahal. Sedangkan bawang putih India, kurang diminati meski harganya lebih murah, Rp18 ribu per kg. (yun/air)


Tidak ada komentar