Header Ads

Sejarawan Sumatera : Pasukan Gajah Mada Pernah Diporak-porandakan Kerajaan Tamiang di Aceh




HISTORIOGRAFI TRADISIONAL LUAR JAWA BERTUTUR
Supomo mengingatkan bahwa gambaran agung Majapahit dalam sejarah Indonesia sebagaimana diinterpretasikan dari teks Nagarakrtagama karangan Prapanca sebenarnya berbeda dengan Majapahit dalam pandangan sebagian besar peduduk Jawa yang memiliki citra lain tentang Majapahit yang lebih kecil dan tidak agung sebagaimana yang ada dalam teks babad, cerita rakyat bahkan ketoprak (Supomo,1983:132).

Supomo juga menyebut bahwa segelintir elit didikan Belanda hanya menggemakan kata-kata guru Belanda mereka yang senang sekali mengatakan luas wilayah kekuasaan Majapahit itu hampir sama dengan wilayah Hindia Belanda. (Lihat : Supomo, 1983 : "Citra Majapahit dalam Tulisan Jawa dan Indonesia Kemudian", in: Anthony Reid and David Marr. Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka. Indonesia dan Masa Lalunya. Grafiti-Pers, cetakan I.)

Wacana luar Jawa, khususnya dari dunia Melayu, diakui Soepomo, memiliki citranya tersendiri tentang Majapahit di Jawa. Dia menyebut, kisah tentang Majapahit banyak sekali terdapat dalam berbagai cerita rakyat, legenda dan babad, bukan hanya dikalangan orang Jawa dan Bali, tetapi juga di kalangan orang Melayu dan banyak penduduk lainnya di kepulauan Indonesia ( Soepomo, 1983 :122).

Sebagaimana dikatakan yang empunya cerita tujuan utama pasukan Majapahit ke Aceh adalah untuk menaklukkan Pasai. Yang empunya cerita , terkadang juga konon kabarnya, alkisah ataupun syahdan dalam tradisi sastra lisan Melayu merujuk kepada sumber dari mana cerita itu berasal. Yang empunya cerita dalam konteks postingan ini (berasal dari paper patik di Jurnal Antropologi Sumatra, Unimed , 2006) adalah sumber dari cerita lisan Aceh yang dikumpulkan Zainuddin (1961).

Karena yang empunya cerita biasanya selalu anonym maka sebagai fakta historis keterangan dari sumber itu tidak dapat dijadikan data sejarah. Tapi dari sudut analisis wacana (diskurs analysis) keterangan yang empunya cerita ini merupakan data wacana sejarah dan ini penting untuk mengetahui sejauh mana dan untuk kepentingan apa suatu "fakta wacana“ dihadirkan, dirubah serta dimanipulasi dari waktu ke waktu.

Serangan Gajah Mada ke Kerajaan Pasai Selalu Gagal

Kerajaan Pasai sangat kuat menurut yang empunya cerita, sehingga pasukan Gajah Mada mundur sejenak menyusuri Sungai Raya untuk mengatur kekuatan, mendirikan benteng di sebuah bukit di daerah pedalaman.

Bukit tempat Gajah Mada mendirikan benteng di daerah Sungai Raya itu sampai sekarang dinamakan Bukit Jawa, suatu nama tempat di Aceh yang mengaitkan namanya dengan jejak cerita rakyat tentang Majapahit.

Dari Bukit Jawa, pasukan Majapahit melakukan serangan ke Pasai tetapi serangan-serangan itu selalu gagal dan kekalahan demi kekalahan selalu dialamai pasukan Majapahit.

Dalam strategi mundur untuk kembali menyerang Pasai itulah pasukan Majapahit ini dikisahkan mendirikan benteng pertahanan di daerah dekat kerajaan Tamiang, sebuah kerajaan di sebelah timur Aceh yang merupakan taklukkan kerajaan Pasai.

Karena sulit mengalahkan Pasai, Gajah Mada mengatur strategi mencoba beraliansi dengan Tamiang agar mendapat bantuan logistik dan pasukan untuk menyerang kembali Pasai.

Strategi yang dipakai adalah melamar puteri raja Tamiang yang jelita untuk dikawinkan dengan raja Majapahit agar terjalin hubungan kerabat. Di samping itu Gajah Mada juga menawarkan kesanggupan Majapahit untuk membebaskan Tamiang dari penaklukkan Pasai dan diganti dengan takluk terhadap Majapahit.

Gajah Mada Dekati Kerajaan Tamiang

Dikisahkan juga sebagai bingkisan sejumlah barang perhiasan berharga, uang serta batik dari Jawa diserahkan utusan Gajah Mada kepada Raja Tamiang.
Keesokan harinya jawaban atas lamaran Gajah Mada itu diberikan Raja Tamiang. Para utusan Majapahit itu dipersilakan masuk istana dan siap-siap di jamu di ruangan khusus.

Tapi ternyata perjamuan yang diberikan justru menghina para utusan Majapahit, dimana kepada para utusan di suguhi talam berisi perhiasan permata pualam terdiri dari intan, berlian, zamrud, delima, nilam serta mutiara. Para utusan Majapahit di suruh memakan semua perhiasan itu.

Bingung dengan makna persembahan itu, salah seorang dari utusan berkata bahwa mereka tidak bisa memakan permata yang disuguhkan itu. Raja Muda Sedia, wakil Raja Tamiang yang ditugaskan menjumpai delegasi pasukan Majapahit mengatakan, makna simbolik dari persembahan itu adalah bahwa Tamiang tidak bisa menerima tawaran Majapahit seperti juga permata-permata itu walau menggiurkan tapi tidak bisa dimakan.

Dengan merendah Raja Muda Sedia mengatakan bahwa pinangan utusan Majapahit untuk mempersunting puteri Raja Tamiang tidak sanggup mereka terima karna Tamiang cuma kerajaan kecil sementara Majapahit kerajaan besar.

Di samping itu alasan penolakan juga disebut karena adat istiadat Majapahit berbeda dengan adat istiadat Tamiang. Raja Mudia Sedia juga menolak tawaran Majapahit untuk membebaskan Tamiang dari jajahan Pasai dan Tamiang juga menolak ajakan Majapahit untuk bersama-sama menyerang Pasai.

Menurut Raja Muda, sekalipun mereka berlindung dan membayar upeti kepada Pasai, tapi itu diberikan secara sukarela dan Pasai menerima berapapun upeti yang diberikan.

Tamiang sendiri sebenarnya merdeka dan tidak dijajah oleh Pasai. Tamiang memiliki pemerintahan sendiri tanpa adanya ikut campur kerajaan Pasai. Dan yang lebih penting lagi menurut Raja Muda, adat istiadat Pasai dengan Tamiang sama.

Kerajaan Tamiang Diserang

Kepada delegasi Majapahit, Raja Muda menyampaikan salam pada Maharaja Majapahit dan para delegasi dipersilakan membawa kembali pulang segala bingkisan yang semula akan dipersembahkan kepada Raja Tamiang.

Para utusan delegasi Majapahit pulang kembali ke markas mereka di dekat Langsa, pada daerah yang sampai sekarang dinamakan Manyak Pahit dimana Gajah Mada dengan balatentaranya menunggu berita delegasi yang dikirim ke Tamiang.

Kecewa dengan kabar yang dibawa delegasi atas penolakan lamaran dan tawaran yang dilakukan Raja Tamiang, Gajah Mada dengan armada tempurnya memutuskan menyerang Tamiang.

Zainuddin mencatat trdisi lisan itu dan menguraikannya dengan gaya yang menyerupai gaya penulisan seperti terdapat dalam teks-teks Melayu klasik :

"Adapun kapal2 perang Modjopahit itu berhadap-hadapan dengan kapal2 perang Radja Tamiang, maka keluarlah segala kapal2 perang Radja Tamiang itu dari sungai2 lalu menjemburkan peluru2 meriamnya kearah kapal2 musuh, maka amuk-amukan dalam kapal satu antara satu terdjadi dengan sangat serunya". (Zainuddin,1961:224)

Gajah Mada dan Pasukannya Lari Pontang-panting

Dalam serangan yang dilakukan secara besar-besaranan ini pasukan Gajah Mada mengalami kekalahan. Tamiang yang dibantu armada militer dari Pasai berhasil menghancurkan serangan Majapahit. Pertempuran besar berlangsung di sekitar Kuala Sungai Ijo dan Kuala Besar.

"Segala tentera Modjopahit jang mendarat mengelilingi benteng Kota Arun Berbadju dapat ditiwaskan, karena itu kapal2 perang Modjopahit terpaksa djuga mundur dari Kuala Besar dan Kuala Sungai Iju, berkumpul seluruhnya di sebuah kuala lain.

Orang-orang Tamiang terus-menerus mengedjar musuhnja itu, sehingga terdjadi lagi pertempuran jang lebih hebat pula, kapal perang Patih Gadjah Mada sendiri dengan kapal perang Laksamana Kantommana dikuala itu, sedang serunya pertempuran itu datang beberapa banjak lagi kapal2 perang dari Sulthan Pasai untuk memberi bantuan kepada Radja Muda Setia.

Oleh karena bertambah kuatnja tenteta (kapal2 perang) Tamiang itu, Patih Gadjah Mada mengundurkan diri seluruhnya ke lautan luas. Dari sana terus kapal2 perang Modjopahit mendarat disebuah pulau didaerah Teluk Haru (Pangkalan Susu) " (Zainuddin,1961:224).

Pasukan Majapahit dalam episode pertama ini, banyak yang tewas, sebagian sisanya mundur (ulak) ke laut menyelamatkan diri. Kata yang empunya cerita tempat kalahnya pasukan Majapahit atas Tamiang melahirkan nama tempat Kuala Raja Ulak yang sampai sekarang masih terdapat di dekat Kuala Besar.

Historigrafi tradisional luar Jawa seperti yang terdapat di Tamiang (Aceh) ini tidak mendapat tempat dalam sejarah Indonesia moderen. Sejarah Indonesia lebih mau memungut khayal para politisi atas teks Jawa sebagaimana disebut Supomo di atas.

Ironinya, cerita rakyat Jawa juga tidak menunjukkan Majapahit dan Gajah Mada sebagai tokoh penting dan besar. Gawat kan, gembar gembor Gajah Mada dan Majapahit dalam sejarah Indonesia kita ini.

(Ichwan Azhari, Sejarawan Sumatera)


Tidak ada komentar